Cahaya, Di Rumah Kami

Sesekali aku teringat masa kecil di desa tempatku dibesarkan. Aku lahir di sebuah desa kecil bernama Kahala. Waktu kuliah teman-teman suka mengejekku kalau tempat ini tak ada di peta. Itu sudah jadi lelucon sehari-hari kami. Desa Kahala berada dalam lingkup Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bukan hal biasa jika tak banyak yang tau tempat ini. Waktu masih di Sekolah Dasar belum ada listrik di desa kami. Menjadi rutinitas setiap sore menyalakan lampu minyak yang biasanya digantungkan di dinding kamar. Lampu minyak beragam jenisnya, namun banyak orang yang membuat sendiri dari botol kaca bekas kecap, atau dari bekas kaleng susu kental manis. Untuk kalangan yang lumayan berada biasanya mereka menggunakan lampu petromaks yang bahan bakarnya spiritus dan bohlamnya dari kain sejenis kasa. Di kampung orang menyebutnya lampu ‘strongkeng’. Nyalanya terang benderang. Aku ingat kami pernah menggunakannya sekali, waktu itu kami meminjam dari tetangga saat jaga malam* meninggalnya adikku. (*Tradisi di desa kami jika ada yang meninggal dunia lewat waktu maghrib atau saat maghrib biasanya dikebumikan esoknya dan banyak warga yang datang untuk berjaga malam waktu itu).

torch-483771_640
pixabay.com

Penduduk Kahala mayoritas bersuku Kutai, meski ada beberapa suku minoritas seperti dayak, jawa, atau bugis. Itupun bisa dihitung dengan jari dulu tak lebih dari sepuluh orang. Orang Kutai punya sebutan sendiri untuk beberapa jenis lampu-lampu ini. Seperti Petromax yang disebut strongkeng, lampu teplok disebut pelita, lampu minyak yang terbuat dari botol bekas dinamai obor dan lampu minyak yang bentuknya agak berbeda karena memiliki kap penutup di belakangnya disebut suar. Jenis suar ini lebih banyak difungsikan sebagai penerangan untuk mencari ikan pada malam hari oleh nelayan di sana.

 

Aku share gambarnya disini. Aslinya ngga seapik di gambar. Ini sekedar untuk deskripsi saja. Anyway beberapa jenis lampu ini masih berguna di rumahku saat ini. Meski listrik sudah ada di desa kami, PLN yang notabene hanya menyala pada malam hari. Masih sesederhana itu di tempat kami. Listrik bagi mereka adalah penerangan. Cahaya yang selama ini mereka butuhkan untuk dapat beraktivitas tanpa terganggu dengan gelap. Hingga ketika mulai beranjak siang, mereka tak khawatir jika listrik sudah pergi. Karena terang sudah kembali. Bandingkan dengan kita yang tinggal di perkotaan, apalagi dengan berbagai gaya hidup modern. Listrik bukan hanya lagi sebagai penerangan, tapi juga sumber energi. Pernahkah kita berpikir jika suatu saat semua hal itu menghilang? Bagaimanakah kita selanjutnya? Kita semua pasti punya jawaban yang berbeda beda. Last. Mulai sekarang, mari kita pergunakan milik kita dengan bijak apapun termasuk energi yang saat ini kita miliki. Karena kita bisa saja kehilangan, kehabisan dan terjadi karena ulah kita.

Salam Damai ^^V

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s