First Time I Regrets

Bicara soal penyesalan. Aku yakin semua orang pasti pernah merasakannya. Sama halnya denganku. Kali ini aku sekedar berbagi tentang hal yang pertama kali membuatku menyesal dalam hidup.

Diusia dini aku dan keluargaku banyak menghabiskan waktu di hutan. Mungkin bahasanya bukan menghabiskan waktu, tapi menjalani hidup kami di hutan. Karenanya aku tak merasa asing dengan tanaman dan hewan-hewan yang hidup di hutan Kalimantan. Mungkin hal yang menjadi penyesalan pertamaku akan berbeda jika aku tinggal di perkampungan apalagi di kota.

a0216968b4a7f1c650cf71af54e863aa
 

Image Source : animals-pictures.com

 

Ayahku setiap hari pergi berburu, di darat, juga di sungai. Sementara Ibuku mengurus ladang padi dan kebun sayur-mayurnya seharian. Tinggallah aku yang selalu sendirian di sebuah Pondok Ladang di tengah hutan. Siang hari Ibuku akan kembali ke Pondok untuk melihatku dan mengajakku makan. Setiap hari aku menantikan senja segera tiba, karena waktu itulah Ayah dan Ibuku kembali ke Pondok kami. Dengan senang hati tentunya aku sambut mereka karena aku akan menghabiskan waktu bersama mereka semalaman. Aku rasa mereka punya peran dan cara masing-masing untuk membuatku merasa nyaman. Ayah yang seringkali tiba dengan membawakanku buah-buahan kesukaanku, juga mainan dari kayu yang biasanya Ia buat sendiri khusus untukku. Seingatku Ayah pernah memberiku mainan dari kayu yang menyerupai microphone. Katanya aku bisa bernyanyi dengan itu. Kemudian beliau membuatkan aku panah mainan yang terbuat dari kayu dan benang. Katanya aku dapat menggunakannya jika ada binatang buas yang menghampiriku. Lalu Ibuku, meskipun kami tinggal di hutan tapi makanan yang kami makan selalu istimewa versi ukuranku. Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk hal ini. Thanks Mom.

Satu sore Ayahku kembali dari berburu, usiaku menginjak tiga tahun pada masa itu. Aku ingat pernah memohon pada Ayahku untuk membawakan seekor burung. Pikirku aku ingin sekali melihat salah satu dari mereka lebih dekat, menyentuh bulu-bulunya yang halus dan indah. Bahkan aku berpikir, aku bisa mengajaknya bermain. Menjadikannya teman karena aku benar-benar membutuhkan teman. Ya, Ayahku membawakannya untukku. Jangan salahkan Ayahku, karena aku memintanya dengan menangis.

Kebingunganku bagaimana menjaganya agar tetap bersamaku hingga esok hari, aku tidak memiliki sangkar atau kurungan untuk ‘teman’ baruku ini. Hey, hari sudah menjadi gelap. Akhirnya ‘teman’ baruku harus bermalam dengan satu kaki terikat pada tiang kayu dengan panjang talinya sekitar lima meter agar ia tetap bisa bergerak. It’s very regretable

Aku bangun pagi-pagi sekali, tak sabar menyapa ‘teman’ baruku. Seekor “Tretek Batang” (dalam bahasa Kutai). Tapi apa yang kutemukan? Sayap-sayap yang berserakan, kemana sang Tretek? Kucoba melihat sekeliling Pondok, kutemukan seekor Kucing yang entah darimana asalnya. Menyadarinya aku menangis cukup lama. Menangis sekeres-kerasnya. Murai malang-ku dimangsa seekor Kucing. Hal yang seharusnya tidak terjadi. Tidak akan terjadi jika aku tak memintanya disini. Tidak terjadi jika aku tidak membelenggunya. Itulah penyesalan pertamaku. Sejak saat itu aku benar-benar tidak ingin melakukan hal senada.

Dengan penyeselanku, cukup menyedihkan ketika melihat banyak dari mereka yang hingga saat ini di dalam sangkar tanpa kebebasan. Pahamilah kawan-kawan, jika kalian menyukai mereka, hal yang terbaik adalah membiarkan mereka tetap hidup di alam bebas. Bukan membawa dan menyimpan mereka di dalam sangkar yang membuat mereka benar-benar kehilangan kebebasannya. Bukankah burung-burung seharusnya terbang? Bukankah seharusnya mereka membuat sarang bersama-sama?

Marilah kita menjadi bagian dari orang-orang yang menghargai kehidupan di alam ini, meski mereka hanya seekor burung, ataupun hewan lain. Lepaskanlah belenggu mereka, bukalah pintu selebar-lebarnya agar mereka senantiasa pergi dan mungkin akan kembali jika kita membiarkan mereka hidup dengan caranya.

Salam Damai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s