Chapter 1 : Menemukan Bahagia

9995d718e3c70193ff4977cb61175d7c
 

Image Source : oncewed.com

 

Kepergian Nara membuat Dean menghela napas lega sekaligus meringis dalam kepedihannya. Nara yang tadinya memberikan harapan cukup bersinar untuk masa depannya.

Setahun lalu Dean dan Nara bertunangan dan berencana melangsungkan pernikahannya seminggu lagi. Namun saat ini semua harapan Dean lenyap bersama dengan kepergian Nara setelah berpamitan padanya sore itu.

Ucapan selamat tinggal Nara membuyarkan lamunan Dean. Nara perlahan melangkah menjauh meninggalkan Dean yang terduduk lemas di salah satu sudut Taman Selecta. Tempat yang seharusnya menjadi saksi pernikahan mereka. Terlihat dedaunan penghias Altar melambai berirama.

“Dean, kita tidak bisa untuk ini.” Nara meremas pundak Dean.

“Untuk alasan apa? Dan kenapa baru sekarang kamu berpikir seperti ini? Kamu tau. Kita sudah berjuang bersama, untuk sampai pada saat ini.” Jawab Dean.

“Aku yang salah.” Nara tertunduk. “Sejak awal aku tau kita berbeda, dan harusnya aku berpikir jika kita memang tidak pernah jadi satu.”

“Semudah itu kah? Apa sesederhana ini bagimu? Empat tahun terlewat tanpa makna.”

“Maafkan aku, aku terlalu egois. Kebersamaan bukan hanya untuk kita. Kulakukan ini untuk kebaikan kita. Suatu saat kau akan memahami keputusanku.” Nara menatap Dean berkaca-kaca.

“Bukan seperti ini yang kita rencanakan. Nara…” Ucap Dean lirih mencoba menahan air matanya.

“Tapi ini sudah menjadi keputusanmu. Maaf jika akupun tak bisa berbuat apa-apa dengan ini.”

Dean meraih Nara kedalam pelukannya. Seketika tangis Nara pecah dalam pelukan Dean.

Bagi Nara, Dean adalah pria terbaik yang pernah ada dalam hidupnya. Namun perbedaan yang akhirnya membuat Nara harus berpikir kembali untuk saling terikat satu sama lain. Mungkin bagi Dean bukanlah hal sulit bagi Nara untuk hidup bersamanya dan meninggalkan semua hal yang ia miliki termasuk kepercayaan yang diyakininya, karena selama ini sikap Nara selalu positif terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepercayaan dan keluarga Dean. Tapi tidak bagi Nara. Sepedih apapun perpisahan bagi Nara tidak akan membuatnya untuk meninggalkan Sang Pencipta. Tetapi kesalahan yang mungkin tak bisa ia lupakan adalah berharap untuk selalu bersama Dean hingga waktu yang tak berbatas.

Perlahan Nara melepaskan pelukan Dean. Diam, senyap, hanyut dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya Nara tersadar dan mengucap selamat tinggal seraya melangkah menjauh.

Dean. Mulai saat ini ingatan tentangmu kusimpan dengan rapi. Di dalam kotak waktu yang aku biarkan terkubur bersama dengan harapan untuk kebahagiaanmu, juga aku. Harapan untuk bahagia bersamamu adalah hal baik yang pernah kuingat. Kini aku berharap bahagiamu dan bahagiaku akan kita raih bersama dengan cara yang sudah tak sama lagi.

Nara.

-0O0-

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s