Chapter 3 : Mawar Putih

Rerumputan liar yang masih setia bersahabat dengan alam sekitarnya di jalan setapak menyapa setiap langkah kaki Adrienne. Langit biru pedesaan yang menggantung hangat bagai atap yang menutupi singgasana seluruh bumi. Suasana dan hal yang jauh berbeda dengan kesehariannya. Adrienne, seorang model yang sedang melambung namanya di negeri jiran memilih kembali ke negeri tempatnya dilahirkan.

cf24d9b4910c090b29c1ffbdde2a8f2f

Image Source : noperfectdayforbananafish by tumblr

 

Dua puluh dua tahun di negeri jiran tak membuat Adrienne lupa tentang hal-hal tak indah yang ia jalani di kampung halamannya. Sang Ibu sengaja menyerahkannya kepada pasangan kaya di negeri jiran dengan maksud agar Adrienne memiliki kehidupan yang lebih baik. Tanpa berusaha menelusuri alasan apapun yang membuat ibunya meninggalkannya, Adrienne justru belakangan tahu bahwa ternyata sang Ibu tidak menyerahkannya secara gratis, melainkan dengan imbalan yang luar biasa besar. Terbukti bahwa Ibu angkatnya selalu mengirimkan hadiah-hadiah berharga kepada Sang Ibu. Terpikir bahwa perlakuan Ibunya selama lima tahun membuatnya tidak ingin bertanya. Adrienne yang setiap harinya terpaksa melihat hal-hal tak indah saat ibunya bersama pria yang tak dikenal sementara Ayahnya terbaring sakit hingga akhirnya pergi meninggalkan sesal dihati Adrienne, mungkin tidak bagi Ibunya. Begitu pikirnya.

Dengan sangat terpukul Adrienne meninggalkan tempat kelahirannya dengan kenangan dan sesal akan Ayahnya.

Menuju lokasi pemakaman langkah Adrienne terhenti tepat di depan makam Ayahnya. Seikat bunga mawar putih yang sedari tadi iya bawa perlahan diletakkannya di atas makam sang Ayah. Satu persatu ingatan masa kecilnya akan Ayahnya mendebarkan jiwanya. Adrienne terisak.

“Ayah, aku membawakanmu mawar putih kesukaanmu. Apa ayah ingat saat Adrienne kecilmu ini menari-nari dengan mawar putih di kepala yang membuatku merasa cantik bak putri?” Lirih Adrienne sambil tersenyum.

“Aku selalu ingat ketika Ayah memberitahuku untuk menjadi seperti mawar yang tetap putih meski berduri. Aku mengingatnya.” Adrienne meneruskan kalimatnya.

“Kau juga datang”. Adrienne terkesiap saat sebuah suara menyapanya.

Tatapan sendu Ibunya ia tepis dengan kepala menunduk.

“Ya, hari ini ulang tahun Ayah. Apa kau mengingatnya?” Sahut Adrienne.

“Aku memahamimu dan memahaminya, bagaimana aku tak mengingat kalian? Senyum merekah dari bibir perempuan setengah baya itu.

Adrienne berdiri dan berniat untuk meninggalkan Sang Ibu tersentak saat Ibunya menahannya dengan menarik lengannya.

“Adrienne, jangan terlalu keras dengan hati dan pikiranmu. Aku ingan kau bisa membuka hatimu untuk orang yang akan peduli padamu, menjagamu. Ayahmu juga pasti menginginkanmu bersama orang yang bisa menjagamu dengan baik. Kau tak mungkin selamanya menutup hati dan bersendirian. Kukatakan ini karena aku memahami kalian.” Pungkasnya.

Dengan tatapan tajam Adrienne menarik lengannya. “Apa yang kau pahami tentang kami? Ataukah kekasih gelapmu itu telah menyadarkanmu? Terlalu banyak rahasia yang kau simpan hingga tak ada yang bisa kupercaya bahkan dirimu.”

“Rahasia, hari ini aku datang untuk memberitahumu. Aku tau kau pasti datang kesini. Hanya aku tak menyangka bertemu langsung denganmu disini.” Sang Ibu memberikan sebuah amplop dan bergegas meninggalkan Adrienne.

Adrienne sayang,

Sekian lama bersamamu kembali setelah sebelumnya terpisah tak membuatku berhenti mengutuki diriku. Mengutuk semua kesalahan yang kulakukan padamu dan Ayahmu. Ibu meninggalkan kalian sejak kamu berumur lima bulan. Nasib baik bagiku, karena bibi Beth adik Ayahmu menjagamu dan mau menerimamu seperti anaknya sendiri. Mendengar Ayahmu sakit dan Bibi Beth harus berjuang sendiri untuk kalian, aku jadi tidak tega. Akhirnya aku memutuskan membawamu bersamaku. Kesalahan kami adalah berpisah tanpa memikirkanmu. Keputusan untuk berpisah adalah keputusan kami berdua, bukan aku saja. Ayahmulah yang memintaku merahasiakan hal ini. Kau tau, hatinya seputih hatimu ketika ia tak menginginkanmu mengetahui kau sudah tak bersama Ibu. Surat ini kutulis tiga pekan sebelum setelah kepulanganmu menuju Danville. Kali ini ketakutanku adalah kau tak ingin kembali bersamaku. Setidaknya dua puluh dua tahun telah membuatku mengenalmu yang seputih dan seindah mawar.

Salam,

Ibu

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s