Chapter 4 : Better Love

a0c5ba650b5f91c7dd787065acc89302

Image Source : 500px.com

Nara menyiapkan beberapa kotak dan tas yang sudah dibereskannya sejak semalam. Hari ini ia akan meninggalkan Kota Malang menuju England.

Nara memang berniat meninggalkan Kota Malang sejak sembilan pekan yang lalu. Setelah memutuskan untuk berpisah dari Dean, Nara ingin memulai kehidupan barunya di tempat lain. Gayung bersambut, Pamannya yang telah lama menetap di London dan menjadi warga negara asing dengan senang hati bersedia menjadi sponsornya.

Mata Nara terpaut pada sebuah foto yang menggantung di dinding kamarnya. Iya masih belum memutuskan untuk membawa, menyimpan, ataukah membuang foto kenangannya bersama Dean. Akhirnya foto itu tetap setia dengan tembok kamar yang akan ditinggalkannya.

“Nara, taksinya sudah tiba.” Teriakan Nayla kakaknya membuyarkan serangkaian imajinasi dari otaknya saat memandang fotonya saat bertunangan dengan Dean.

“Promise me, you’ll be happy everyday. Hati-hati disana.”

Thanks Naysalam pamit buat dua junior dan Mas Papi yah.” Nara mengedipkan mata dan memeluk Nayla kemudian beranjak seraya melambaikan tangannya.

Malam temaram di London terasa begitu asing bagi Nara. Berulang kali ia memalingkan kepala dan pandangannya ke sekeliling area tempat tinggal Pamannya. Hingga seorang pria muda bernama Rhys yang menjemputnya di Bandara memberikan aba-aba untuk segera memasuki rumah padanya.

Nara tersipu malu dalam hati. Ia beruntung karena Rhys tidak memperhatikannya, jika tidak rona merah di pipinya karena menahan malu akan semakin membuatnya tersipu.

Bibi Marioline menyambutnya dan memeluknya hangat.

“Oh Nara, kamu cantik sekali. Aku telah lama mendengar cerita tentangmu.” Katanya seraya mencium pipi Nara.

Nara tersenyum dan bersyukur dengan sambutan awal yang hangat dari Bibi Mari. Rupanya Paman Harris tak pulang malam ini. Bibi Mari menyiapkan makan malam dan secangkir teh untuk Nara.

Malam itu Nara tak bisa tidur. Gelisah. Berbagai hal menghantui benaknya. Ia memang berniat untuk mencari pekerjaan di London. Dia bahkan tak berpikir panjang tentang bagaimana ia harus menjalani kehidupannya di London.

Tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan di negara asing ini. Pengalamannya di bidang jurnalis dan pendidikan psikologi tidak membuat ia bisa diterima begitu saja di tempat kerja yang sudah ia kunjungi. Lima puluh empat kali ia dipanggil interview dan gagal. Namun hal itu tak membuat surut semangat Nara. Paman Harris dan Bibi Mari selalu memperlakukannya dengan baik.

Sore itu Rhys sepupunya mengajaknya berjalan-jalan ke Museum of London. Selama perjalanan dari Wood Street menuju London Wall, Nara dan Rhys semakin terlihat akrab. Rhys yang biasanya lebih banyak diam mulai menunjukkan keakrabannya dengan bersenda gurau. Ia pun mulai banyak melontarkan pertanyaan yang lebih pribadi kepada Nara. Seolah air mengalir Nara menjadi lebih terbuka dan menceritakan banyak hal kepada Rhys termasuk hubungannya yang kandas dengan Dean. Usia Nara memang hanya terpaut dua tahun lebih muda dibanding Rhys, tapi sejak awal Nara menganggap Rhys adalah sosok seorang kakak yang baik baginya.

“Apa masalahnya? Ayah dan Ibu juga berbeda hingga sekarang. Tapi aku pun tak pernah melihat masalah yang cukup berarti diantara mereka. Kecuali mereka memang menyimpannya untukku.” Kalimat Rhys membuat Nara terkesiap.

Tak berharap menemukan jawaban yang tepat Nara hanya menggelengkan kepalanya.

Rhys tersenyum. “Sudahlah, keputusanmu sudah tepat untuk memulai hal baru disini. Next week aku akan mengenalkanmu dengan dua orang temanku. Mereka pasti sangat menyukaimu. Elsa hampir sama sepertiku, Ibunya terlahir dari darah Indonesia sementara ayahnya berkebangsaan Jerman. Mereka belum lama pindah ke London baru sekitar enam bulan yang lalu. Nino came from Indonesia dulunya belajar di Jurusan  yang sama denganku, Multimedia. Sebelum aku memutuskan untuk berpindah ke Jurusan Statistik.

Pagi itu lebih dingin dari biasanya, Nara menarik selimut yang hanya menutupi separuh badannya. Suara ketukan dari pintu kamarnya memaksanya beranjak malas. Sejak empat hari lalu Nara mulai melanjutkan hobi menulisnya. Semalam tak terasa ia terjaga sampai pukul lima pagi demi menyelesaikan tulisannya.

“Rhys, aku tak bisa pergi.” Nara yang masih pucat dan lemas bergumam dari celah pintu kamar yang dibukanya setengah.

Rhys menerobos masuk kamarnya sambil mengacungkan telunjuknya. “Tunggu, aku akan membawakanmu teh jahe.” Nara tersenyum, dalah hatinya Rhys begitu perhatian padanya.

“Nino berjanji akan menemui kita siang ini, sayangnya Elsa tak bisa datang. Aku bercerita tentangmu. Dia tampaknya kegirangan karena akan bertemu denganmu.” Kalimat Rhys terpaksa menyihir Nara beranjak dari peraduannya. Sambil menikmati teh hijau buatan bibi Mari Nara memberi kode kepada Rhys untuk meninggalkan kamarnya.

Nino ternyata sosok pria baik dan begitu perhatian. Meski baru saling mengenal, Nara dan Nino sudah terlihat cukup akrab. Siang itu Nara, Rhys, dan Nino menghabiskan waktu di sebuah kedai kopi  di Wood Street tak jauh dari rumah Paman Harris.

Lima pekan berlalu Nara sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Nino sebagai teman sekaligus sahabatnya di negeri asing ini. Nino yang seringkali membuatnya tergelak ketika mereka sedang bersama ternyata adalah pria humoris yang tetap mempertahankan sopan santunnya.

Kini Nino dan Rhys adalah orang-orang yang tak pernah ia lewatkan kebersamaannya barang seharipun. Seperti hari ini saat Nara sedang berjuang untuk memotivasi dirinya yang sebentar lagi akan menjalani interview lanjutan pada sebuah perusahaan komunikasi. Nino dan Rhys tak henti-hentinya menghibur dan memberikan motivasi kepadanya. Seikat bunga aster berwarna ungu muda kesukaan Nara diberikan Rhys untuknya.

Nara terseyum haru. Baginya, tak penting siapakah orang yang akan menjadi pasangannya kelak. Tak peduli seperti apa hari-hari yang akan dilaluinya tanpa seorang pendamping hidup. Tapi saat ini ia telah memiliki cinta yang lebih baik, teman-teman dan keluarga terbaik bersamanya. Terlebih Paman Harris, Bibi Mari serta Nayla adalah keluarga yang sangat menghargainya. Menghargai segala keputusannya.

There’s better love.

***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s