Pedagang Kecil

Pukul setengah enam pagi. Kabut masih menyelimuti Desa. Saatnya Ibu mengambil waktu istirahatnya yang singkat setelah membereskan pekerjaannya membuat Kue Putu untuk dijual. Mendinginkan jari jemarinya yang tak henti menyesap panas dari buluh-buluh bambu yang digunakan untuk cetakan Kue Putu ini. Dengan langkah bersemangat aku menjejakkan kaki disetiap pagi. Tak kuhiraukan sakit menekan di kepalaku … More Pedagang Kecil

Chapter 5 : Sebuah Retorika

Langkahku tertahan di depan gerbang tinggi yang seolah tak membiarkanku melihat apapun yang disembunyikannya. Ditemani menara-menara yang menjulang congkak bak menantang langit diatasnya. Dalam benakku terbersit banyak pertanyaan. “Sudah siapkah aku? Mampukah Aku?” “Kehidupan seperti apakah yang ada di dalam sana?” Gerbang ini adalah gerbang yang mungkin akan membawa perubahan dalam hidupku. Satu langkah aku memasukinya … More Chapter 5 : Sebuah Retorika