Chapter 5 : Sebuah Retorika

breathtaking-views-of
Image Source : tripadvisor

Langkahku tertahan di depan gerbang tinggi yang seolah tak membiarkanku melihat apapun yang disembunyikannya. Ditemani menara-menara yang menjulang congkak bak menantang langit diatasnya.

Dalam benakku terbersit banyak pertanyaan.

“Sudah siapkah aku? Mampukah Aku?”

“Kehidupan seperti apakah yang ada di dalam sana?”

Gerbang ini adalah gerbang yang mungkin akan membawa perubahan dalam hidupku. Satu langkah aku memasukinya dan setiap langkah di dalamnya akan perlahan mengikis beberapa bagian dari masa laluku.

Aku tersadar tak seharusnya ketakutanku ini menguasai diriku. Titah yang nyata telah tertulis untukku dan memang sudah seharusnya bisa kuterima adalah memasuki gerbang ini. Terik mentari yang mengantarkanku memasukinya membawa pekik dalam hatiku. Bukan panas nya yang aku keluhkan, tapi bahkan sang mentari tak ingin membagi belas kasihnya denganku. Peluhku bercucuran membasahi gaun sutra berhiaskan emas yang aku kenakan siang itu.

Perlahan gerbang terbuka. Seorang gadis belia datang menyambutku dengan riang. Ia menundukkan badannya sebagai tanda hormat. Tak lama dua orang pengawal datang menghampiriku. Mereka bersamaan memberikan isyarat untuk membawaku.

Pemandangan yang aku saksikan kali ini benar-benar tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Aku dibawa melewati gerbang pertama setelah melewati taman bertangga rendah di bagian luar bangunan ini. Satu bangunan yang sangat panjang dimana setiap sisinya terdapat tujuh puluh ruangan atau kamar yang telah berpenghuni.

Di setiap ruangan sisi kanan aku diperlihatkan pasangan belia yang tampak bahagia, mereka bersenda gurau, memakan buah-buahan yang terlihat sangat lezat. Tiap pintunya berhiaskan tanaman bunga berwarna putih yang memancarkan bau harum. Seorang gadis bermata hijau tua dengan senyum merekah mencoba memaksaku untuk memasuki kamarnya dengan menggelayut ditanganku. Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum.

“Aku akan menemuimu nanti”.

Entah, hal yang terlihat tak menarik tetapi membuatku berpikir keras. Setiap pintu kamar disisi kiri ruangan ini tertutup rapat. Pada setiap sisi pintu terdapat sebuah obor yang ditata sejajar dengan obor lainnya. Mataku mencoba menelusuri pemandangan di dalamnya. Namun tak kutemukan apapun. Seorang gadis belia yang dari tadi mengikutiku setelah menyambutku di gerbang utama berbisik pelan.

“Nyonya, mereka tak akan bertemu dengan orang seperti Anda. Tetapi suatu saat Anda dan juga saya tetap harus memilih satu ruangan di bangunan ini.” Ia menunduk.

“Nona, orang seperti apakah mereka yang ada di bagian ini?” Tanyaku.

“Nyonya, tak seorangpun dari kami yang mengetahui siapa saja dan orang seperti apa yang ada di dalam sana. Karena pintunya selalu tertutup rapat dan tak seorangpun bisa masuk ke dalam sana.” Sahutnya.

Aku mengangguk dan meneruskan langkahku lebih jauh lagi. Sebelum sampai di bagian paling akhir ruangan kami disambut oleh seorang Pria Tua dengan sebuah tongkat ditangan kanannya.

“Nona, kalian sudah cukup berjalan. Aku akan mengantarkan kalian menuju Aula. Disitulah tempat kalian sementara waktu sampai kami tentukan tempat tinggal yang layak untuk kalian.”

Aku tak berpikir yang dimaksud adalah sebuah Aula. Lebih terlihat seperti sebuah pemukiman dengan luasan yang cukup untuk menampung tiga juta manusia. Seketika aku mendadak merasa tak mampu mengingat beberapa hal yang kulewati sebelumnya hingga semuanya menjadi gelap.

“Nyonya, Anda sudah sadar?” Gadis belia ini mengusap dahiku dengan lembut.

Aku menatap sekeliling dan kembali menatap matanya.

“Anda beristirahat cukup lama. Aku diperintahkan untuk tidak meninggalkan Anda. Disinilah tempat tinggal kita sekarang. Aku akan membantu Anda untuk beberapa keperluan.” Gadis manis ini meneruskan kalimatnya.

“Siapa namamu dear?” Tanyaku lirih.

“Adelaine Nyonya. Aku akan mengganti pakaian Anda dengan pakaian yang lebih nyaman dan sederhana. Sudah menjadi aturan dan keharusan di sini. Beritahu Aku jika Nyonya sudah siap.”

Aku mengangguk.

Disinilah aku memulai hidup bersama Adelaine. Di sebuah perkampungan di dalam gerbang yang sudah tak kutahu dimana letaknya. Semua terasa aneh bagiku. Tapi satu hal yang aku pahami sejak berada disini, hatiku yang sejak dulu mudah terombang-ambing seakan tak meninggalkan rasa. Tawar. Tetapi entah mengapa kehidupan tanpa rasa dan berada di tempat ini bersama Adelaine tak terasa sulit.

Adelaine seringkali berusaha menghiburku, membawaku ke beberapa tempat yang mungkin aku sukai. Meski usahanya tak merubah apapun. Tetap saja kehidupan ini adalah yang aku syukuri.

Adalah yang bernama pilihan, adapula sesuatu yang telah digariskan. Tugas kita adalah membuatnya menjadi jelas dan meraih hikmah untuk banyak hal yang masih menjadi misteri. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s