Ketika Sepasang Mata Berharap Tak Melihat

(Based on true life)

07144416e8e1ff9860f4fb271a7c15fc
Miss Moss (Pinterest)

“Oh.”

Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari bibirku yang membeku. Saat kau berikan jawaban yang meyakinkanku tentang kenyataan yang kulihat.
Aku hampir saja meyakinkan diriku bahwa hal yang kulihat hanyalah bentuk kesalahpahaman akan kekhilafanmu yang tak sengaja kau lakukan.
Begitu juga dengannya yang kini berdiri dengan percaya diri di sampingmu.

Pikiran ini hendak memberontak pengakuanmu.
Tidak. Ini hanya kekhilafan yang bisa kumaafkan. Karena ku yakin kau tak akan mengulanginya.
Tapi kenyataannya tak seperti itu. Kau membenarkannya. Menggantikanku dengan dia yang kini bersamamu. Bahkan kau terlihat begitu yakin akan keputusanmu.

“Ya, aku sudah cukup bersembunyi darimu.”

Jawabanmu atas pertanyaanku. Ketika aku menemukan kebersamaan kalian sore ini di Villa bulan madu kita lima tahun yang lalu. Kau menghadiahkannya sebagai kado pernikahan kita. Tapi bukan itu sebenarnya hal yang aku inginkan. Aku bahagia memilihmu untuk sebuah harapan akan kebahagiaan yang kita jaga bersama.

Bahkan saat ini aku benar-benar tak ingin percaya kau melakukannya. Andai saja aku tak menemukanmu. Andai tak kulihat kau pergi bersamanya. Andai aku tak menaruh rasa curiga dan mengikutimu ke tempat ini, sore ini.

Aku berpikir untuk lebih baik tak tahu apa yang terjadi. Lebih baik tak melihatmu bersamanya seperti ini, dan tetap membiarkanmu melakukannya di belakangku. Dan kau tak akan pernah mengakuinya dihadapanku meski semua orang mengatakan hal yang sebenarnya.

Mungkin aku hanya akan berpura-pura tak mengerti apa yang terjadi. Berpura-pura tak cemas menunggumu hingga dini hari. Hanya berharap kau tetap pulang ke rumah kita, bersamaku dan bermain bersama Putra kecil kita. Tak kubiarkan dia tahu bahwa cinta Ayahnya sudah tak semurni kemarin, yang siap meninggalkannya kapanpun demi seseorang yang lain.

Ingin ku minta padamu untuk tetap bersamaku, meski harus bertopeng di depan kami. Aku bisa menerimanya. Atau jika kau ingin, aku rela berbagi dengan yang lain, selama ini tetap menjadi rahasia untuk Putra kecil kita.

Tapi keputusanmu telah benar-benar dibuat.
Aku akan mengatasi hatiku karena kehilangan cintamu, tapi aku tak pernah tau bagaimana mencari jawaban atas pertanyaan Putra kita tentang Ayahnya yang tak lagi memberi pelukan selamat tidur. Aku membayangkan bahwa akan ada beribu pertanyaan karena tak pernah lagi ia miliki kebersamaan denganmu. Hanya tinggal aku dan dia.

Kau katakan tidak untuk tetap menemuinya. Bahwa kau benar-benar akan pergi dan menghilang dari kehidupan kami.

Kubiarkan kau menikmati malammu. Kuhindari perdebatan panjang yang akan merusaknya.

Aku tak bodoh. Bagiku saat ini kau sudah bukan pria yang pantas menerima cinta dariku. Kulakukan ini hanya karena tak ingin membuat Ayah dari Putraku menjadi lebih buruk dari kelihatannya.

Hidup ini tentang menerima apa yang menjadi hak dan menjalani hal yang menjadi kewajiban kita. Apapun yang terjadi dalam diri dan kehidupan kita pastikan kita tetap kembali memilih jalan tepat untuk menepati kewajiban dan meraih hak untuk diri dan hidup kita.

-Mary Quaine-


3 thoughts on “Ketika Sepasang Mata Berharap Tak Melihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s