Move On, Melupakan atau Menerima?

Kapan kita benar-benar menginginkan perubahan dalam hidup kita? Kenapa saya bahas move on kali ini. Karena kebanyakan dari sahabat bahkan mungkin kita sendiri memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan. Memory tentang kejadian yang tidak sesuai harapan membuat kita terpaksa harus menghadapi dan menjalani sebuah kehidupan baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya karena suatu hal.

Move on memang seharusnya berubah menuju hal yang lebih baik. Karena itu proses yang dijalani pun tak selalu mudah karena harus merubah sebagian bahkan keseluruhan dari kebiasaan sebelumnya.

Seorang sahabat bernama Sia bertanya tentang bagaimana caranya melupakan masalah yang kini membuatnya minder dan putus asa. Katakanlah sewaktu kecil hingga menginjak remaja ia mengalami kekerasan fisik dari Ibunya. Hal ini terjadi setiap hari bahkan di muka umum, hingga akhirnya ia menjadi sosok yang minder dan sulit bergaul. Karena kebanyakan dari teman-temannya suka mengejek dan menghinanya. Saat remaja ia tak memiliki sahabat dekat karena terlalu tertutup dan menjadi keras hati.

Menginjak dewasa ia kemudian mengalami kesulitan dalam memilih pasangan hidup. Ia selalu merasa lebih nyaman hidup dan tinggal sendiri. Ia sangat jarang mengunjungi orang tua dan saudara-saudaranya. Ia seakan menghilang dari radar keluarga besarnya.

Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang kawan masa kecilnya. Yang pada akhirnya berhasil merebut hatinya dan membuatnya perlahan membuka pikirannya. Teman masa kecilnya ini sangat tau dan paham tentang apa yang dialaminya sejak kecil. Namun sang kawan tak pernah membicarakan hal-hal yang ia tau akan membuat temannya sedih.

Sejak saat itu mereka bertemu setiap hari. Karena kebetulan sang kawan bekerja di kota yang sama dengan tempat tinggal Sia sekarang. Setiap hari sang kawan mengajak Sia mengunjungi tempat yang berbeda-beda di kotanya. Ia selalu memposisikan Sia sebagai seorang wanita luar biasa. Tak jarang ia melemparkan kalimat atau pertanyaan untuk meminta pendapat bahkan persetujuan Sia. Hal itu ia lakukan demi upaya membangkitkan kepercayaan diri Sia.

Sekian lama Sia merasa tak ada orang yang melihatnya, memperhatikannya, apalagi meminta pendapat bahkan persetujuan darinya. Tak mungkin. Tapi sang kawan yang bahkan tahu masa lalunya, tahu berbagai kekurangannya seolah tak peduli dengan itu semua. Justru sang kawan menjadikannya seseorang yang istimewa.

Sia berangsur-angsur pulih. Dan sang kawan yang berhasil merebut hatinya kini menjadi sahabatnya. Tapi proses pemulihan tak hanya berhenti disana. Jika sebelumnya Sia memperoleh kepercayaan dirinya lewat dukungan sahabatnya. Tapi kali ini ia harus menghadapi dan memutuskan sendiri tentang kebungkamannya terhadap keluarga selama ini.

Satu hari Sia berangkat menuju kampung halamannya. Segala pikiran berkecamuk dalam benaknya tentang bagaimana ia akan disambut sesampainya di sana. Atau, kalimat apa yang harus ia ucapkan pertama kali pada Ibunya. Haruskah ia meminta maaf? Kenapa? Siapakah yang salah sebenarnya? Dia kah atau Ibunya? Bagaimana hati dan pikirannya mengelola ini semua.

Take care on your way, dear.” Bunyi pesan teks yang dikirimkan oleh sahabatnya.

Setengah hari Sia tertegun dalam sebuah bus tua yang ia tumpangi.

“Sia ya?” Sebuah suara setengah berbisik dari bangku bus tepat di belakangnya.

Sia menoleh untuk melihat siapa yang menyebut namanya. Matanya terpaut pada binar ceria kepunyaan Eza kakak kelasnya di sekolah dasar setelah mengetahui bahwa yang dipanggil adalah benar, Sia.

“Iya.” Satu kata dari Sia dan setelahnya berbalik ke posisi duduknya semula. Namun akhirnya mereka terlibat percakapan panjang karena Eza terus menerus mencoba menarik perhatiannya.

2ec773c6fbe2945dd43cfc5acc6627ff
 

image sources : rei-gomes.tumblr.com

 

Sia tiba di rumah. Seperti biasa pintu rumah selalu tertutup rapat layaknya tak berpenghuni. Sia mengetuk pintu dua kali. Sang Ibu menatapnya tak berkedip saat membukakan pintu untuknya.

“Bu, ini Sia.” Sia menunduk tak berani menatap mata Ibunya.

“Silakan masuk.” Kekakuan antara Ibu dan Anak yang terpisah sejak lama tak terelakkan.

Sia duduk di kursi tamu panjang di susul Ibunya.

Hening. Setengah jam. Sang Ibu akhirnya terisak.

“Maafkan Ibu nak.” Kalimat itu keluar dari mulut Ibunya.

Sia melenguh. Harusnya ia yang memiliki keberanian untuk meminta maaf terlebih dahulu. Namun, Sia juga harus berbahagia karena Ibunya juga memiliki niat yang sama.

Sia mencium tangan ibunya dan memeluknya erat. Sore itu memang penuh air mata. Namun air mata kali ini adalah air mata yang menghapus jejak hitam masa lalu Sia dan Ibunya.

Pada akhirnya Sia belajar dan memutuskan untuk menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya di masa lalu. Kesakitan yang berujung dendam tak elok untuk terus ia pertahankan.

“Ayse. Besok aku udah balik. Ibu juga ikut. Sementara disana temenin aku dan Ibu jalan-jalan seperti biasa yah.” Sia mengirimkan pesan teks pada sang sahabat dengan senyum mengembang dibibirnya.

Okay dear, can’t wait for that great moment. Kalo dah tiba segera kasih kabar ya biar aku jemput.” Balas Ayse sang sahabat dari kejauhan.

Ketika kita memilih untuk melupakan, maka separuh atau sebagian cerita hidup kita akan menghilang. Bisa saja kita akan kehilangan banyak orang yang berkaitan dengan cerita yang telah kita lupakan. Namun, ketika kita telah memutuskan untuk menerima pengalaman pahit dalam hidup kita, maka yang kita peroleh adalah tingkatan pembelajaran yang akan kita pergunakan sebagai ilmu untuk maju dan menaiki tangga kehidupan selanjutnya.

Kitalah yang harus memilih dan memutuskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s