Chapter 7 : Koma

Cerpen Kaltim Post, Edisi 04 September 2016 Hal. 35

Pergilah sejauh kau ingin pergi.
Tertawalah disaat kau harus tertawa.
Bergembiralah bersama rasamu.
Tapi kau boleh kembali jika kau ingin.
Dan menangis saat kau perlu menangis.
Aku tetap sama. Tetap disini, untukmu.

Begitulah rasa yang selalu tersedia untukmu. Saat kau bersama dia yang menggelayut manja. Aku hanyalah akan menjadi seseorang yang tersenyum dari bilik bahagia. Kemudan menangis dalam diam dan tanpa air mata saat kau terluka olehnya, oleh dia atau yang lainnya.

Aku tak merasa ini sebuah kebodohan. Cinta seperti inilah yang ku kenal. Bukan seperti cinta kalian yang berbatas rasa suka, sayang dan keserasian. Aku rasa Tuhan pun mencintai kita dengan cara yang sama. Sejauh apapun kita meninggalkan-Nya, sesering apapun kita melawan kehendak-Nya. Dia akan selalu menuntun kita kembali pada-Nya. Merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Ini cinta yang sebenarnya.

Kau terbiasa untuk pergi setelah kembali. Kau tahu hatiku akan selalu menerimamu. Meski kemarin kau telah berjanji untuk berbahagia. Namun kau datang lagi hari ini. Begitu seterusnya.

Tapi setelahnya aku percaya bahwa kau sudah bahagia, setidaknya kau tak pernah kembali seperti biasanya. Dari mereka aku tahu, kau telah menemukan rumahmu. Rumah yang akan menjadi tempat kau pulang setiap hari. Gadis kecil berambut ikal yang kini menjadi pewarna keceriaan dalam rumahmu dan dia.

Tapi kepercayaan ini tak berlangsung lama. Tiga tahun sudah aku merekam kebahagiaanmu bersamanya, dan mulai menyusun agenda baru dalam hidupku. Pagi ini suara seseorang dari balik telepon menyeretku berjumpa denganmu. Kini dirimu menjadi seonggok tulang dan daging terbalut kulit yang terbaring tanpa sadar di ruang ICU rumah sakit. Aku berpikir betapa menderitanya dirimu di dalam sana. Mungkin tak akan terbayar dengan kebahagianmu selama tiga tahun ini. Ataukah mungkin kau telah menyembunyikan rasa sakitmu selama ini? Aku tak akan bisa memaafkan diriku jika benar demikian.

gopego_Heart-rate_960x540
Image source : gopego.com

Seorang perawat menghampirimu. Ia menyuntikkan sesuatu ke dalam selang yang akan mengalir dalam tubuhmu. Aku sembari menanyakan kondisimu. Ia menjelaskan dengan sangat baik dan terperinci. Ia juga memintaku untuk menandatangani beberapa dokumen untukmu. Bagaimanapun akulah orang yang tercatat dalam dokumen negara kita sebagai pasangan hidupmu. Aku berjalan lesu menapaki koridor yang terasa amat panjang bagiku. Seolah seribu langkah ini tak jua membawaku berpindah dari tempatku berpijak. Pancreatic Cancer ternyata telah hampir lima tahun bersemayam di tubuhmu, dan dalam dua bulan ini telah merenggut kesadaranmu.

Aku terduduk lesu dalam kebungkaman. Tak kuhiraukan orang yang lalu – lalang melihatku dengan tatapan aneh. Tiga puluh enam tahun lima hari. Ya, tepatnya lima hari lalu adalah hari ulang tahunmu. Dan hari ini kutemui kau seperti ini. Bukan dengan kegembiraan dan kado ditanganku, aku justru membawakanmu kesedihanku yang tak kutahu dari mana asalnya. Aku bertanya – tanya, hal apa tentang dirimu yang membuatku begitu sedih. Takut kehilanganmu? Bukankah selama ini aku telah kehilanganmu. Ragamu tak terlalu sering bersamaku, apalagi hatimu?

Aku perlahan bangkit, kali ini aku telah memutuskan untuk tak bersedih karena keadaanmu. Aku harusnya berdoa dan membangun harapan dalam diriku sendiri. Bahwa suatu hari kau akan kembali seperti sedia kala. Kau akan berbahagia bersama dia dan putri kecilmu. Lalu untukku? Ya, aku sudah tahu. Tak akan ada bedanya untukku. Bagiku hidup ini adalah tentang bertemu dan berpisah. Yang aku tahu aku telah terbiasa.

Seraya melangkah dari kejauhan aku melihat putri kecilmu yang berlarian di ujung koridor. Aku tersenyum melihatnya bersemangat untuk tetap berlari dengan keseimbangan yang sedang ia pelajari. Ia cantik, memiliki mata dan hidungmu. Ingin sekali aku menghampiri dan menggenggam tangan mungilnya. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Jika saat ini ia harus kehilanganmu, akulah yang akan bersiap untuk bercerita tentang betapa hebat Ayahnya yang bertarung melawan kerasnya dunia. Aku menepis bayangan yang tiba – tiba berkelebat di pikiranku. Andai aku juga memilikinya, andai kebahagiaan itu dapat aku persembahkan untukmu. Mungkin kau akan menjadikan rumah kita sebagai tempat untuk pulang. Mungkin aku akan menjadi wanita satu – satunya yang bersamamu. Dan kau tak akan pernah melampiaskan kekecewaanmu pada mereka di luar sana. Mungkin. Aku segera menghapus pikiran – pikiran itu dari benakku. Aku tak mungkin merutuk kehendak Tuhan atasku. Bukankah selalu kukatakan pada diriku bahwa semua rencana ini sudah tertulis pada Lauh Mahfudz. Ini hanyalah skenario yang harus aku dan kau jalani sebagai manusia yang percaya akan keberadaan Ilahi.

Energi negatif seketika menyeruk ke dalam tubuhku. Senyum yang mengembang sejak tadi tak ada lagi. Saat aku melihat dia menggandeng mesra lengan sahabatmu. Ya, aku tak salah. Dia sahabatmu yang dulu pernah kau perkenalkan padaku. Kulihat Pria itu mengecup dahi dan pipinya, seraya melambaikan tangan. Amarah membuatku ingin mencabik – cabik wajahnya yang berhias senyum licik saat menatapmu dari balik pintu ruang ICU. Aku tak tahan melihat pemandangan yang baru saja terjadi tak jauh dari depan mataku. Oh tidak, mungkinkah ini balasan yang diberikan Tuhan padamu? Aku tak ingin ini terjadi padamu.

Sepertinya ia mulai menyadari kehadiranku. Ia melemparkan senyum ke arahku kemudian berpaling menjauh bersama putri kecilmu. Aku mencoba menafsirkan tatapan tak bersahabat yang baru saja ia lemparkan padaku, meski aku telah mencoba tersenyum padanya. Mungkin kau tak akan percaya. Sebelum pemandangan itu terpampang di depan mataku. Akulah orang yang ingin memeluknya, untuk menemaninya melawan kesedihan karena rasa takut kehilanganmu. Namun semuanya berubah. Aku yang terlambat menyadari bahwa cintanya padamu memang berbatas, berbatas waktu, rasa, dan ambisi. Seperti hal yang dirasakan kebanyakan orang. Mereka sebut itu cinta, mereka namakan sebagai kasih. Namun cinta dan kasih bagiku hanya punya satu batasan, yaitu rencana Tuhan yang tak terpecahkan oleh akal pikiran manusia. Rencana yang akan selalu menjadi misteri.

240_F_99883075_5ZTEX7gkspKfHsaUv9cOIbwWqyExrZDn
Image source : eu.fotolia.com

05 Agustus 2016.

Kubiarkan kau menunggu dalam ketidaksadaranmu, hingga tiba waktunya nanti. Aku percaya ini adalah sebagian rencana Tuhan untukmu. Untuk menghapus segala kesalahanmu, sebelum kau menjadi manusia suci yang akan terbang ke langit.

***


2 thoughts on “Chapter 7 : Koma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s